fase-fase dalam DSS

Dalam sistem pendukung keputusan diperlukan beberapa tahap/fase dalam pengambilan keputusan. Disini akan dibahas secara singkat fase-fase apa saja yang perlu dilakukan dalam pengambilan keputusan.

Simon (1979) membagi fase pengambilan keputusan menjadi: fase inteligensia, fase desain, dan fase kriteria. Sebenarnya simon menambahkan fase lagi yaitu fase implementasi dan fase monitoring. Namun fase  monitoring dipandang sebagai fase inteligensia yang diterapkan pada fase implementasi.

Menurut Simon fase-fase tersebut mempunyai hubungan/dampak web. Berikut ini gambaran umumnya:

Fase

Dampak Web Dampak Pada Web
Inteligensia -        Akses kepada informasi untuk mengidentifikas masalah dan peluang dari sumber data internal dan eksternal

-        Akses ke metode AI dan metode data mining lainnya untuk mengidentifikasi peluang-peluang

-        Kolaborasi melalui GSS dan KMS

-        Pambelajaran jarak jauh dapat memberikan pengetahuan mengenai struktur tambahan terhadap masalah

-        Identifikasi peluang-peluang untuk e-comerce, infrastruktur web, alat-alat hardware dan software

-        Agen cerdas mengurangi beban informasi berlebihan

-        Search engine yang smart

Desain -        Akses ke data, model, dan metode

-        Penggunaan OLAP, data mining, data warehouse

-        Kolaborasi melalui GSS dan KMS

-        Solusi serupa tersedia dari KMS

-        Metode brainstorming (GSS) untuk kolaborasi dalam desain infrastruktur web

-        Model dan solusi terhadap isu-isu infrastruktur web

Pilihan -        Akses ke metode untuk mengevaluasi pengaruh solusi-solusi yang diusulkan -        Alat-alat DSS menguji dan membangun criteria dari model untuk menentukan web, intranet, dan infrastruktur ekstranet

-        Alat-alat DSS menentukan bagainana merute pesan

Implementasi -        Alat-alat kolaborasi berbasis Web dan KMS dapat membantu keputusan implementasi

-        Alat-alat memonitor performa e-comerce dan situs lainnya, intranet, ekstranet, dan internet.

-        Keputusan diimplementasikan pada akses dan desain browser dan server: hal ini pada dasarnya menentukan bagaimana men-setup berbagai komponen yang telah meluas di dalam internet

Untuk mempermudah memahami pembagian fase-fase oleh Simon, berikut ini pembagian fase yang disajikan dalam bentuk bagan/skema pengambilan keputusan/proses pemodelannya:

A. Fase Inteligensia

Fase ini meliputi scanning (pemindaian) lingkungan, baik intermiten maupun terus-menerus. Inteligensia mencakup berbagai aktifitas yang menekankan identifikasi situasi atau peluang-peluang masalah. Berikut ini tahap-tahap yang harus dilakukan:

-  Identifikasi Masalah, dimulai dengan identifikasi tujuan, sasaran, dan determinasi apakah tujuan tersebut telah terpenuhi. Disini kita harus menentukan apakah ada suatu masalah, mengidentifikasi gejala-gejalanya, menentukan keluasannya, dan mendefinisikannya secara eksplisit.

-  Klasifikasi Masalah, konseptualisasi terhadap suatu masalah dalam rangka menempatkannya dalam suatu kategori yang dapat didefinisikan.

-    Masalah Terprogram Vs Tidak Terprogram,  masalah terprogram merupakan masalah yang terstruktur dengan baik ayng berulang serta rutin. Sedangkan masalah tidak terprogram merupakan masalah yang belum pernah dikenal dan tidak terjadi lagi.

-    Dekomposisi Masalah merupakan pembagian/pemecahan masalah-masalah yang kompleks.

-  Kepemilikan masalah merupakan hal penting dalam fase inteligensia. Pembagian tanggung jawab dalam mengatasi submasalah dapat mempercepat penyelesaian suatu masalah.

B. Fase Desain

Dalam fase ini meliputi penemuan atau mengembangkan dan menganalisis tindakan yang mungkin untuk dilakukan. Hal ini meliputi pemahaman terhadap masalah dan menguji solusi yang layak. Sebuah model masalah pengambilan keputusan dikonstruksi, dites, dan divalidasi.

C. Fase Pilihan

Fase dimana dibuat keputusan yang nyata dan diambil suatu komitmen unutk mengikuti suatu tindakan tertentu.

D. Fase Implementasi

Suatu solusi yang diusulakan untuk suatu masalah adalah inisialisasi terhadap hal baru, atau pengenalan terhadap perubahan.

sumber: Decision Support systems and intelligent system book, by Turban, Aronson and Liang

Komponen Decision Support Sistem (DSS)

Sistem pendukung keputusan (Decision Support Systems/DSS) digunakan untuk meningkatkan keefektifan pengambilan keputusan, mengurangi kebutuhan akan pelatihan, meningkatkan control manajemen, memfasilitasi komunikasi, menghemat usaha yang dilakukan pengguna, menghemat biaya dan memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih objektif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kegunaannya DSS mempunyai beberapa komponen, yaitu:
1. Subsistem manajemen data. Subsistem ini akan memasukkan satu database yang berisi data relevan dan dikelola oleh Database Management System (DBMS). Umumnya diinterkoneksikan dengan data warehouse dan data disimpan dan diakses via server web database. Terdiri dari DSS database, sistem manajemen database, direktori data, dan query facility.
2. Subsistem manajemen model. Merupakan paket software yang memasukkan model keuangan, statistic, ilmu manajemen atau model kuantitatif lainnya yang memberikan kapabilitas analitik dan manajemen software yang tepat. Software ini disebut dengan sistem manajemen bisnis model (MBMS). Elemen-elemen dari subsistem manajemen model adalah: basis model, sistem manajemen basis model, bahasa pemodelan, direktori model, serta eksekusi model, integrasi, dan prosessor perintah.
3. Subsistem antarmuka pengguna. Pengguna beristeraksi dengan DSS menggunakan subsistem ini. Susistem antarmuka pengguna dapat terdiri dari GUI, natural language processor, dan interaksi dengan subsistem manajemen model.
4. Subsistem manajemen berbasis-pengetahuan. Subsistem ini bertindak independen, menudukung subsistem-subsistem yang lain, memberikan inteligensi untuk memperbesar si pengambil keputusan.

DSS minimal harus mencakup tiga subsistem, yaitu: subsistem manajemen data, subsistem manajemen model, dan subsistem antarmuka pengguna. Subsistem manajemen berbasis-pengetahuan merupakan komponen optional, namun subsistem ini mempunyai manfaat yang sangat besar karena memberikan inteligensi bagi subsistem yang lain

sumber: Decision Support systems and intelligent system book, by Turban, Aronson and Liang

sistem pendukung keputusan dan badan intelijen

tema dari blog ini adalah “sistem pendukung keputusan dan badan intelijen”. dalam blog ini saya akan sedikit membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem pendukung keputusan dan badan intelijen.
sistem pendukung keputusan (SPK) atau decision support systems (DSS) merupakan bagian dari sistem informasi berbasis komputer yang digunkana untuk membantu dalam pengambilan suatu keputusan. sistem ini mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
1. membantu menyelesaikan masalah
2. mendukung manajer dalam mengambil keputusan
3. meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan.

    untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, maka SPK harus melalui beberapa tahapan di bawah ini:
    1. definisi masalah
    2. pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan
    3. pengolahan data menjadi informasi, baik dalam bentuk laporan grafik maupun tuliasan
    4. menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam presentase)

      sistem pendukung keputusan sudah banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, pendidikan, pemerintahan, badan intelijen, dll. sehubungan dengan tema blog ini. saya akan sedikit membahas pemanfaatan SPK dalam bidang intelijen. sebelum melangkah jauh, terlebih dahulu saya akan sedikit memperkenalkan tentang badan intelijen.
      intelijen (intelligence) merupakan informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya. berbeda dengan data yang berupa informasi yang akurat atau fakta yang merupakan informasi yang telah diferivikasi. informasi dalam intelijen biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak yang penting untuk ditindak lanjuti atau dianggap berharga dipandang dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen. pada dinas intelijen dan dinas terkait lainnya, intelijen merupakan data aktif ditambah dengan proses dan hasil pengumpulan dan analisa yang terbentuk oleh jaringan yang kohesif.
      intelijen pada dasarnya bersifat mengumpulkan informasi. namun pada perkembangannya tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga sejauh mana menyelesaikan setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya yang dikenal dengan operasi intelijen/operasi klandestin.proses intelijen mempunya dua kepentingan, yaitu:
      1. operasi taktis, operasi yang dilakukan untuk mendukung operasi-operasi taktis yang dilakukan dalam jangka waktu dan kegiatan tertentu, umumnya dilakukan oleh angkatan bersenjata
      2. operasi strategis, operasi yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data infromasi dan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan strategis, umumnya dilakukan dalam jangka waktu yang panjang

        lalu, dimana letak hubungan antara sistem pendukung keputusan dengan badan intelijen??!
        *to be continued—

        sumber: d.wikipedia.org/wiki/Sistem_pendukung_keputusan, id.wikipedia.org/wiki/Badan_Intelijen_Negara

        Follow

        Get every new post delivered to your Inbox.